1. Tidak “berbicara” kepada masyarakat luas.

Banyak dari para network marketer merasa gugup atau tidak percaya diri memperkenalkan dan menawarkan bisnis yang sedang digelutinya kepada masyarakat.

Sebagai downline, mintalah bantuan seorang rekan yang dapat mendukung secara emosional, yaitu upline, lalu bekerjasama dengannya. Anda harus berkomunikasi dengan masyarakat jika ingin mendominasi dan memenangkan kompetisi pasar. Bayangkan, Anda telah memilih bisnis di mana penetrasi downline menjadi prioritas, tetapi tidak memperkenalkannya kepada masyarakat.

 

  1. Membatasi jumlah prospek.

Seorang network marketer pernah berkata, “Aku telah memperkenalkan bisnis ini kepada sejumlah orang, namun belum juga melihat hasil jerih payahku. Ini berarti aku tidak pandai merekrut”. Ia mengeluhkan hal tersebut bulan demi bulan. Perlu diketahui, salah satu sebab kegagalannya adalah karena ia menghabiskan waktunya memperkenalkan bisnis kepada yang kurang atau bahkan tidak tertarik dengan bisnis MLM. Temukan prospek-prospek baru, tetapi tanpa meninggalkan yang lama. Kemudian perhatikan, apakah mereka tertarik atau sebaliknya. Jika Anda semakin terbiasa menggeluti bisnis MLM, kehadiran prospek-prospek baru bisa memunculkan semangat, suasana serta gairah yang baru pula.

 

  1. Keliru memilah prospek.

Jika ini terjadi, pada akhirnya banyak waktu terbuang percuma. Tak sedikit network marketer melakukan kesalahan ketika merekrut, sehingga mempunyai jaringan yang didalamnya berisikan prospek yang tidak sesuai dengan criteria sebagai network marketer sejati.

Lantas prospek seperti apa yang memenuhi kriteria ? adalah mereka yang menunjukkan gairah saat ditawarkan sebuah peluang bisnis, dan mampu menularkan gairah tersebut kepada orang lain. Bukan mereka yang mudah menyampaikan komplain hanya setelah melihat formulir pendaftaran yang berbelit-belit.

 

  1. Kurang menguasai teknik percakapan.

Kunci kesuksesan bisnis MLM termasuk diantaranya kemampuan berkomunikasi. Sebagaian pelaku bisnis MLM belum mempunyai keahlihan ini sehingga salah menyampaikan “pesan” kepada prospek.

Sebisa mungkin, hindari terlalu membicarakan diri sendiri. Lakukan percakapan secara professional sambil mencari-tahu kebutuhan hal-hal yang disenangi prospek, baik dikala bertemu langsung atau melalui telepon, percakapan dua arah ini menentukan keberhasilan Anda merekrut. Tak ada yang lebih buruk bagi seorang upline yang hanya merekrut demi alasan pribadi, tanpa mengetahui apa yang menjadi motivasi prospek menggeluti prospek.

Saat memprospek, perbandingan ucapan “saya” dan “Anda”, setidaknya 1 berbanding 4. kata “saya” 1 kali, dan kata “Anda” 4 kali. Itu menunjukkan bahwa Anda menaruh perhatihan besar kepadanya. Lalu sebagai latihan lanjutan, hilangkan mengatakan “saya”, diganti dengan kata “kita”.

 

  1. Terlalu banyak bicara.

Kebiasaan yang sukar dihilangkan dari para pelaku MLM yang sedang merekrut adalah mengeluarkan banyak kata-kata yang tak perlu. Ubah kebiasaan tersebut dengan berusaha menciptakan suasana merekrut di mana prospek yang mendominasi pembicaraan. Suguhkan pertanyaan, dengarkan jawaban, semakin mereka terbawa suasana, Anda semakin mengerti apa yang menjadi motivasi dan kebutuhan mereka.

Umumnya, kita lebih senang menjadi pembawa presentasi disbanding menjadi peserta. Dan pembisnis MLM, adalah ibarat pembawa presentasi yang juga sedang memprospek serta merekrut. Maka selain menerangkan informasi, Anda pun harus dapat mengetahui keluhan atau kebutuhan para pendengar. Anda harus senantiasa bersosialisasi dengan masyarakat, dan cara terbaik agar mereka merasa nyaman bersama Anda, adalah dengan menjadi salah satu pendengar yang baik.